Jumat, 17 Februari 2012

Pendekatan Teologis Normatif dan Filosofis dalam Metodologi Studi Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Dalam mempelajari metodologi studi islam memang mebawa kita cara atau teknik bagaimana memahami islam itu secara baik dengan melihat problematika yang telah ada. Memang dapat diakui mata kuliah ini sebenarnya tidak penting tetapi secara relitas mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang sangat-sangat penting untuk dipelajari.
Belajar metodologi studi islam ini secarah jauh dengan mengenal studi islam itu perlu adanya pendekatan-pendekatan yang ada. Pendekatan yang dimaksud dalam studi agama adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam penelitian agama. Terdapat banyak pendekatan tetapi, dalam makalah ini hanya dibahas dengan dua pendekatan yaitu pendekatan secara teologis-normatif dan pendekatan dilihat dari sisi filosofisnya.

B.     Rumusan masalah
  1. Apaah yang dimaksud pendekatan teologis-normatif?
  2. Apakah yang dimaksud pendekatan filosofis?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendekatan Tologis-Normatif
Pendekatan teologis diterjemahkan sebagai upaya memahami atau meneliti agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan diangap sebagai yang paling besar dibandingakan dengan lainnya.
Pendekatan ini bersifat partikularistik, dogmatis, fanatic,  ekslusif, arogan, dan tidak jarang terjadi klaim kebenaran (truth claim). Pendekatan ini lebih menekankan pada bentuk forma atau symbol-simbol keagamaan yang masing-masing mengklaim dirinyalah yang paling benar dan sebaliknya yang lain salah. Menggunakan cara berfikir deduktif, yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinannya yang diyakini benar dan mutlak adanya karena ajaran yang berasal dari tuhan sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan terlebih dahulu. Melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjitnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.
Pendekatan teologis erat kaitannya daengan pendekatan normative, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari tuhan yang belum dinalar manusia. Misalnya, islamsecara normative pastibenar, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur; secara sosial, menawarkan nilai-nilai kemanusiaan, seprti ukhwa, ta`awwun, tasamuh; secara ekonomi islam menawarkan konsep keadilan, kejujuran, konsistensi, kepercayaan; secara sains dan teknologi islam memotivasi pemeluknya untuk menuntut ilmu pengetahuan. Pendektan ini memandang agama sebagai suatu kebenaran mutlak dari tuhan, tidakada kekurangan sedikitpun dan nampak bersifat ideal.
Fenomena keagamaan yang menarik untuk diteliti dengan menggunakan pendekatan teologis-normaitf, misalnya :
1)      Melacak teologi yang dianut golongan Ahmadiyah terkait dengan ajaran dan keyakinannya.
2)      Organisasi Jamaa Tablik terkait aktifitas dagangnya.
3)      Komunitas muslim Gulamas dan Welado terkait dengan etos dagangnya.
4)      Komunitas muslim Bugis, Makasar, Betawi dan Bima tentang keinginan kuat mereka untuk naik haji.
5)      Sekte Kristen Davidian pimpinan David Coresh bersama 80 orang pengikutnya melakukan bunuh diri massa pada april 1993.
6)      Sekte Sinto Aum Shinrikyo yang melakukan pembunuhan dengan membebaskan gas beracun di Jepang.
7)      Sekte hari kiamat Kristen yang ingin menjemput kedatangan hari kiamat pada tanggal 19 bulan 9 tahun 1999 jam 9 menit ke-9 detik ke-9.
8)      Sekte pondok nabi di Bogor Jawa Barat.
9)      Seorang ibu yang terkenal fanatik bunuh diri setelah membunuh 4 anaknya dengan cara minum racun yang diracik dalam bentuk pil di Malang Jawa Timur dan sebelumnya menulis pesan lewat surat dan mengabdikan prosesi pembunuhan itu melalui handphone.
Keyakinan akan teologi yang dianut dapat melahirkan sebagian sifat yang terkesan negatif tetapi keyakinan teologis ini memberikan corak kepada agama karena sifat militansinya yang begitu tinggi.
Solusi/masalah ini adalah munculnya wacana teologi yang masa kritis, yaitu usaha manusia untuk memahami penghayatan iman/agamanya. Suatu penafsiran atas sumber-sumber asli dan tradisinya dalam konteks permasalah masa kini; atau teologi yang bergerak diantara dua kutub yaitu teks dan konteks (situasi) masa lampau dan masa kini.
B.     Pendekatan Filosofis
Filsafat pada intinya beruapaya menjelaskan inti, hakikat atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik obyek formalnya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriyah.
Muhammad Al-Jurjawi yang berjudul Hikmah al-Tasyri` wa Falsafatuha berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran agama Islam. Ajaran agama misalnya mengajarkan agar melaksanakan shalat berjamaah. Tujuannya antara lain agar seseorang dapat merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Dengan mengerjakan puasa misalanya, agar seseorang dapat merasakan lapar yang selanjutnya merasakan rasa iba kepada sesamanya yang hidup serba kekurangan.
Demikian pula ibadah haji yang dilaksanakan di kota Mekka, dalam waktu yang bersamaan, dengan bentuk dan gerak ibadah (manasik) yang sama dengan yang dikerjakan lainnya dimaksudkan agar orang yang mengerjakan berpandangan luas, merasa bersaudara dengan sesama muslim dari seluruh dunia, dan sebagainya.
Demikian pula seseorang yang membaca sejarah kehidupan para nabi terdahulu. Maksudnya bukan hanya sekedar tontonan atau kemampuan menangkap makna filosofis yang terkandung di belakang peristiwa tersebut. Kisah nabi Yusuf yang digoda seorang wanita bangsawan, secara lahiriyah menggambarkan kisah yang bertema pornografi. Dengan kisah tersebut Tuhan mengajarkan kepada manusia agar memiliki ketampanan lahiriyah dan batiniyah secara prima. Maka yang demikian dapat dijumpai melalui pendekatn filosofis.
Dengan menggunaan pendekatan ini seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Dengan cara demikan ketika seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidakakan merasa kekeringan spiritual yang dapat menimbulkan kebosanan. Semakin mampu menggali makna filosofis dari suatu ajaran agama, maka penghayatan, sikap dandaya spiritualitas akan meningkat pula.
Karena demikian pentingnya pendektan filosofis ini, maka seseorang menjumpai bahwa filsafat telah diguanakan untuk memahami berbagai bidang lainnya selain agama. Melalui pendekatan ini sesseorang tidak akan terjebak pada pengamalan agama yang bersifat formatik, yakni dengan mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari pengamalan agama tersebut hanyalah pengakuan yang formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun islam yang ke-5 dan berhenti sampai di situ. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.



















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
a)      Pendekatan teologis diterjemahkan sebagai upaya memahami atau meneliti agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.
b)      Pendekatan teologis erat kaitannya dengan pendekatan normative, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari tuhan yang belum dinalar manusia.
c)      Dengan pendekatan filosofis maka seseorang menjumpai bahwa filsafat yang digunakan untuk memahami berbagai bidang lainnya selain agama. Misalnya adanya filsafat hukum islam, filsafat sejarah, filsafat kebudayaan, filsafat ekonomi, dan lain sebagainya.
d)     Filsafat mempelajari segi batin yang bersirat esoterik, sedangkan bentuk (forma) menfokuskan segi lahiriah yang bersifat eksoterik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar